Saturday, September 19, 2026

Kun Rajula

*“KUN RAJULA"*
Bisikan Terakhir Seorang Ibu yang Mengubah Dunia

*Senja di Yatsrib*

Tahun 576, di Yatsrib, kota yang kelak bernama Madinah, seorang ibu muda berusia 20-an tahun terbaring di lantai atas rumah keluarganya.

Namanya Aminah binti Wahb.

Pagi itu ia turun lalu menggandeng tangan putranya yang berusia 6 tahun ke pemakaman Bani Najjar. 

Enam tahun ia menunda kunjungan itu. 

Enam tahun ia hidup seolah suaminya, Abdullah, hanya sedang dalam perjalanan dagang yang belum kembali. 

Kini, di depan gundukan tanah makam sederhana yang ditandai pelepah kurma kering dan bata lumpur, kenyataan itu akhirnya berhadapan langsung dengannya. Dia gemetar. Aminah jatuh tersungkur.

Lalu ia digotong pulang, tubuhnya panas, lemas, dan ia menolak makan.

Barakah (Ummu Aiman), pengasuh setia dari negeri Habasyah, membasuh dahi Aminah dengan kain hangat basah. Ia berpikir bahwa kali ini tidak akan ada akhir yang bahagia.

Lalu ia membawa anak Aminah keluar kamar agar anak itu tidak melihat ibunya meregang nyawa.

Menjelang matahari terbenam, Aminah memanggil anaknya dengan suara terbata-bata.

Anaknya yang masih kecil itu masuk, lalu berdua tangisan pecah.

Lalu Barakah menyandarkan Aminah pada bantal agar ia bisa merengkuh putranya ke dalam pelukan. 

Air mata sang ibu membasahi rambut anaknya. Lalu anak kecil itu, yang tadi pagi baru pertama kali berdiri di depan makam ayahnya, menghentikan tangisannya, lalu mengusap air mata ibunya dengan tangan mungilnya. 

Ia memegang dagu dan pipi ibunya sambil berkata bahwa ia sangat menyayangi ibunya.

Bayangkan, tangan sekecil itu, di hari berat itu, masih berusaha menghapus kesedihan ibunya.

Aminah tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menciumi putranya dan mencoba memeluknya dengan sisa tenaga terakhir. 

Lalu, sambil menatap samar mata hitam yang besar itu, ia mengumpulkan napas penghabisan:

_*"Ya Muhammad, kun rajula… kun rajula."*_
_Wahai Muhammad, jadilah insan yang mengubah._

Kemudian ia memejamkan mata untuk selama-lamanya.

Matahari telah tenggelam.

Bulan purnama naik dan cahayanya jatuh ke kamar sunyi itu, menyinari seorang anak yatim-piatu yang menangis terisak-isak di atas jasad ibunya. 

Ia menangis tanpa tahu bahwa kelak ia sendiri akan dijuluki sebagai *Al-Badr* ("Bulan Purnama"), yaitu cahaya yang menerangi kegelapan.

*Mengapa ia pilih dua kata itu: “Kun Rajula”?*

Orang-orang di dalam kamar itu bertanya-tanya: mengapa seorang ibu menghabiskan napas terakhirnya untuk memikulkan amanah seberat itu di pundak anak kecil berusia enam tahun? 

Mengapa ia tidak berkata "jaga dirimu, Nak", "jangan lupakan ibu, Nak", atau "ibu sayang padamu, Anakku"?

Jebara menjelaskan bahwa akar kata *rajula* pada mulanya menggambarkan keahlian langka seorang pengrajin: kemampuan mengubah batu mentah yang kusam menjadi perhiasan yang memancarkan cahaya. 

Susunan kata *kun rajula* menjadikannya keadaan yang terus-menerus, sebuah jati diri, sebuah kepribadian, sebuah karakter—bukan pekerjaan sesekali saja.

Jadi yang dibisikkan Siti Aminah, ibunya, sesungguhnya kira-kira adalah begini:

*Nak, dunia ini penuh dengan batu-batu kasar. Ada manusia kasar, ada perangai kasar, ada keadaan yang kasar, ada nasib yang kasar. Jadilah engkau tangan yang mengubahnya dari yang kasar menjadi permata. Dan itu bukan sekali-sekali, Nak. Jadikanlah itu karaktermu, jadikan itu kepribadianmu, jadikanlah itu dirumu, Nak—selamanya.*

Aminah tidak meninggalkan emas, tanah, atau rumah. Ia meninggalkan sesuatu yang tidak bisa dicuri perampok, tidak bisa lapuk dimakan waktu, dan tidak bisa hilang ditelan gurun. Ia meninggalkan sebutir benih di dalam rongg qolbu anaknya, Muhammad.

Jebara menulis bahwa Muhammad membutuhkan puluhan tahun untuk benar-benar memahami hadiah perpisahan dengan ibunya itu.

*Fajar pemakaman: hari tanpa sepatah kata*

Muhammad kecil menghabiskan sepanjang malam itu memeluk jasad ibunya.

*Shubuh itu*

Menjelang shubuh, tiga orang lelaki menuju area pemakaman dengan cangkul. Mereka menggali liang lahat di kaki makam Abdullah. Suami dan istri itu akan berbaring berdekatan. 

Jengkerik malam itu perlahan berhenti bernyanyi dan burung-burung kecil mulai terdengar berkicau. Embun menyelimuti tanah seperti kain pucat yang basah.

Para perempuan memandikan Aminah, meminyakinya dengan wewangian, dan membungkusnya dengan tiga lapis kain linen putih. 

Ketika ayam jantan berkokok, iring-iringan jenazah bergerak. Kerabat mengangkat pelepah-pelepah kurma di atas jasad sehingga keranda itu seakan terbungkus kepompong hijau.

Muhammad berjalan di belakangnya dalam keadaan diam. Jebara mencatat bahwa hari itu ia tidak mengucapkan satu patah kata pun.

Ia melihat kain putih itu diturunkan ke liang kubur dan ditutup dengan batu-bata. Lalu tanah itu ditimbunkan, butir demi butir, hingga menjadi dinding yang memisahkan seorang anak dari ibunya untuk selamanya.

*”Yatim": sebuah kata yang berarti tidak lengkap*

Hari itu, di mata masyarakatnya, Muhammad resmi menjadi *yatim-piatu*. Jebara mengingatkan bahwa kata ini dalam budaya Arab saat itu mengandung makna yang lebih kejam dari sekadar "tanpa orang tua". Makna yang lebih luas adalah "tidak lengkap", manusia yang kurang, manusia yang bolong.

Di tanah tempat martabat diukur dari ayah yang melindungi, ibu yang merawat dan menyayangi, dan saudara yang membela, bocah kecil itu tidak punya apa-apa. Dia tidak punya siapa-siapa. Ia tidak punya ayah, ibu, maupun saudara kandung. Seluruh modal sosial yang dibutuhkan untuk berarti di dunia itu sama sekali tidak ia miliki.

Lalu bagaimana mungkin anak yang "tidak lengkap", “bolong”, dan “kurang” itu harus memenuhi wasiat ibunya untuk mengubah dunia? Jebara menyebutnya sebagai tugas yang tampaknya *mustahil*!

Hatta, tak ada waktu untuk berkabung. Kafilah menuju Makkah sudah berangkat sehari sebelumnya. Muhammad dan Barakah dinaikkan ke atas kuda dan dipacu mengejar kafilah hingga tersusul di sumur Badar. 

Sepanjang dua minggu perjalanan melintasi gurun, Muhammad kecil hampir terus menangis dan sulit tidur.

Anak ini belum tahu bahwa di sumur Badar yang sama—puluhan tahun kemudian ia akan berdiri sebagai pemimpin umat manusia.

*Benih yang tumbuh menjadi hutan*

Di sinilah letak rahasia yang paling menyayat sekaligus paling menguatkan: luka itu tidak membunuhnya, justru luka itulah yang membentuknya. Menumbuhkannya.

Anak yang merasakan dingin, khawatir serta ketakutan kehilangan itu tumbuh menjadi manusia yang paling hangat kepada anak yatim. Dan kelak Allah SWT sendirilah yang menghiburnya dengan ayat yang sangat lembut seperti belaian seorang Ibu, dan bahkan lebih:

_”Bukankah DIA mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?"_

(QS Ad-Dhuha: 6)

Beliau Rasulullah Muhammad SAW kemudian bersabda, sambil merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk belitan—bahwa Beliau dan orang-orang yang menanggung dan memelihara anak yatim akan berdekatan dengan Beliau di surga—seperti dua jari itu (HR. Bukhari).

Itu seakan-akan Beliau berkata: *Aku tahu rasanya. Aku pernah menjadi anak yang yatim.*

Dalam riwayat hadis yang masyhur (HR. Muslim), bertahun-tahun kemudian, ketika Beliau telah menjadi pemimpin yang disegani di seluruh jazirah Arabia. 

Beliau meminta izin kepada Rabb-nya untuk menziarahi makam ibunya. Izin itu diberikan. Di depan pusara ibunya itu, lelaki itu seolah melihat wanita yang mengasihinya, yang memeluknya dan wafat saat memeluknya. Lelaki itu menangis dan semua orang-orang di sekelilingnya ikut menangis. 

Anak 6 tahun yang dulu hanya menangis di pemakaman dan tidak bisa berkata apa-apa itu—ternyata ia masih hidup di dalam dada Rasulullah SAW ketika kembali di makam ibunya.

Wasiat Aminah juga tidak berhenti pada putranya. Jebara menunjukkan bahwa Muhammad kelak menggunakan susunan kalimat yang persis sama untuk menitipkan misi kepada orang lain. Kepada Jundub, pemuda dari suku Ghifar, suku paling ditakuti di jazirah Arabia, Beliau memberi nama baru sekaligus amanah: *"Kun Aba Dzarr!"* (Jadilah penebar benih yang jauh jangkauannya). Pemuda itu kembali ke kaumnya seorang diri, dan bertahun-tahun kemudian datang ke Madinah bersama rombongan besar yang telah berubah.

Benih yang ditanam seorang ibu di Yatsrib diteruskan oleh anaknya kepada muridnya, lalu oleh muridnya itu kepada sebuah kabilah, dan terus berlanjut hingga hari ini sampai kepada kita yang membaca kisahnya, hingga akhir zaman kelak.

Di akhir bukunya, Jebara menegaskan bahwa kata-kata terakhir Aminah itu bergema melampaui bocah enam tahun itu dan sampai kepada manusia dari segala latar belakang di sepanjang zaman: berusahalah menjadi pengubah dunia dengan kebaikan dengan caramu sendiri.

*Tanamlah, walau kiamat di depan mata*

Barangkali karena teladan ibunya itulah Muhammad kelak bersabda: _jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit pohon, tanamlah._

(HR. Ahmad)

Renungkan hadis ini dalam cahaya kisah Aminah. 

Aminah menanam di detik-detik terakhir hidupnya. 

Ia tidak akan pernah melihat anaknya tumbuh dewasa, tidak akan menyaksikan Gua Hiro, Madinah Al-Munawwaroh, atau Fathu Makkah. Ia tidak akan pernah tahu bahwa bisikannya menjadi awal dari sebuah peradaban. _Ia hanya menanam, lalu memejamkan mata._

_Dan Allah yang menumbuhkannya_.



Selamat malam. Semoga bermanfaat. 

— Diambil dari buku _Muhammad, The World Changer: An Intimate Portrait_ (St. Martin’s Essentials/St. Martin’s Press, 2021), oleh Dr. Mohamad Jebara, seorang cendekiawan Islam, sejarawan, ahli bahasa Semitik (termasuk bahasa Arab Klasik dan Ibrani Alkitab), filolog, eksegete, imam, dan penulis. Beliau tinggal di Ottawa, Ontario, Kanada. Beliau mulai menghafal Al-Quran sejak usia 10 tahun dan menjadi Hafidz Quran pada usia 12 tahun.

Saturday, January 4, 2020

Jerat Pinjaman Online

Seperti diulas pada Metro TV 29 Desember 2019 diceritakan oleh salah satu korban pinjaman online (pinjol) yang diwawancarai Metro TV. Proses peminjaman kurang lebih sebagai berikut.

  1. Karena akan meminjam online ybs harus mengunduh salah aplikasi pinjol. Ketika menginstall ternyata harus memberikan akses pada daftar kontak yang ada di smarphone-nya.
  2. Kemudian dia, katakanlah si X, meminjam uang sejumlah 1,5 juta.
  3. Dari besaran tersebut ketika cair hanya diterima 1,1 juta dan harus dikembalikan sebanyak 1,7 juta dalam waktu 14 hari.
  4. Jika terjadi keterlambatan akan dikenakan denda dengan besar 25 sampai 50 ribu rupiah per hari. 
  5. Keterlambatan yang lebih panjang disertai ancaman akan menyebarkan kondisi hutang tersebut kepada daftar kontak yang terdapat pada ponsel pintar si X. Perusahan pinjol dapat mengakses melalui aplikasi yang telah diinstal si-X dan menyetujui ketika menginstall aplikasi tersebut.
  6. Menurut cerita s-X juga bahkan pernah mendengar ancaman yang lebih seram yang mengarah ke pembunuhan (m u t i l a s i). 
Menurut si X tadi dia tertarik untuk pinjam online karena kecepatan cairnya yang hanya 1-2 hari. 

Monday, November 19, 2018

Siapa Ferguso yang Tekenal Dalam Meme Itu?

Saya yakin kalian sering melihat meme tentang Ferguso yang banyak beredar di WAG, instagram maupun facebook group. Kira kira meme tersebut bunyinya seperti ini : "Tidak semudah itu Ferguso !"   Nah, tahukah kalian dari mana nama Ferguso itu berasal. 

Sekilas nama Ferguso mengingatkan kita akan nama-nama pemain bola dari Portugal atau Spanyol. Ternyata meme Ferguso ini berasal dari film serial atau terkenal dengan istilah telenovela jadul era 1990-an yang di dalam karakternya, ada sesosok wanita legendaris yang bernama Marimar. Dan memang telenovela ini berasal dari Amerika Latin yang banyak berkaitan dengan budaya dan bahasa dari Portugis dan Spanyol. Ingat kan, masa ekspedisi sejarah orang-orang Eropa ke benua Amerika. 

Yah, begitulah, dalam film telenovela Marimar ini, ada sesosok anjing peliharaan marimar yang sangat setia menemani marimar di saat suka dan duka. Cerita tentang telenovela ini bisa dibaca di wiki di sini : https://en.wikipedia.org/wiki/Marimar_(1994_TV_series)  

Dan kebetulan nama anjing tersebut adalah Pulgoso. Entah darimana kemiripan Ferguso dan Pulgoso ini. Yang jelas mungkin jika di-dubbing ke dalam Bahasa Indonesia. Kata Pulgoso ini agak sulit dieja, jadi diindonesiakan jadi Ferguso. Nah, dari sinilah mungkin terlahir kata Ferguso.

Jadi kesimpulannya. Di dalam meme "Tidak semudah itu Ferguso!", ternyata Ferguso ini adalah anjing kesayangannya Marimar. 😂


Friday, March 9, 2018

Jin Menurut Konsep Islam

Sebagai muslim kita wajib mengimani eksistensi hal ghaib, termasuk jin. Konsekuensi dari mengimani adalah mengilmui: mengerti, paham dengan fondasi yang kuat dari dalil Al-Qur'an dan Hadits. Vice versa. Untuk bisa mengimani dengan benar, harus mengerti ilmunya.

Bangsa jin itu sesungguhnya fenomena yang biasa saja, seperti halnya kita mengenal bangsa bule, bangsa sipit, bangsa negro. Kedudukannya adalah sebagai makhluk dan hamba Allah, hanya berbeda dunia. Mereka juga dikenakan kewajiban taklif seperti halnya kita manusia. Dalil: Adz-Dzariyat ayat 56.

Ketiadaan ilmu pada diri seorang muslim menimbulkan semacam ketakutan akan sosok jin, atau justru menafikan eksistensi jin. Ketidakmampuan kita mengindera sesuatu bukan berarti sesuatu itu tidak eksis. Dalil eksistensi jin: Al-Jin ayat 1, ayat 6, Al-Ahqaf ayat 29, Al-An'am ayat 130.

Jin atau al-jinnu diambil dari akar kata janana, yakni yang keadaannya tersembunyi. Sama dengan akar kata janin dan jannah, yang artinya tertutup dari indra manusia. Bangsa jin dapat melihat manusia, sebaliknya manusia tidak diberi kemampuan untuk melihat jin dalam bentuk aslinya. Dalil: Al-A'raf ayat 27 dan Fathul Bari hadits no. 2311.

Jin diciptakan dari api yang sangat panas. Allah ciptakan lebih dulu sebelum manusia pertama -Adam alayhissalam- eksis. Dalil: Al-Hijr ayat 27, Ar-Rahman ayat 15, Hadits riwayat Muslim no. 2966.

Seperti halnya manusia, jin memiliki mulut, mata, dan telinga. Mereka juga berbicara, tertawa dan menangis. Dalil: Al-A'raf ayat 179, Al-Isra' ayat 64. Di antara bangsa jin, ada yang beriman, kafir, atheis, agnostik. Dalil: Al-Jin ayat 11.

Jin juga makan dan minum. Makanan jin adalah tulang dan kotoran. Dalil: Hadits riwayat Bukhari no. 3860, riwayat Tirmidzi no. 18. Sedangkan makanan jin kafir adalah hewan sembelihan ataupun makanan yang tidak disebut nama Allah. Dalil: Hadits riwayat Muslim no. 2018.

Jin memiliki jasad dan ruh. Hanya saja jasad mereka memungkinkan mereka untuk berubah bentuk, bergerak dengan cepat, dan keistimewaan-keistimewaan lain yang Allah berikan. Jin memiliki ruh, artinya jin juga mengenal mati, atau dapat dibunuh. Setidaknya ada tiga kelompok jin: (1) yang memiliki sayap dan terbang di udara, (2) yang berbentuk ular dan kalajengking, (3) yang tidak menetap di suatu tempat, senantiasa berpindah-pindah. Dalil: Hadits dari Abu Tsa'labah radhiyallahu 'anhu dalam Ta'liq Al-Misykat oleh Syaikh Albani, hadits no. 4148.

Setiap manusia yang lahir ke dunia diiringi jin sebagai pengiring, yang disebut qarin. Dalil: Hadits riwayat Muslim no. 2814 dari Ibnu Mas'ud. Inilah yang seringkali disebut oleh para dukun atau paraabnormal sebagai khodam. Ada pula yang mengklaimnya sebagai peranakan jin dan malaikat. Sungguh para dukun itu penuh dengan kedustaan!

Qarin sebagai bangsa jin, berumur lebih panjang dari manusia. Maka saat seorang manusia meninggal, qarin-nya masih tetap hidup hingga umur yang dikehendaki Allah. Qarin inilah yang seringkali menampakkan diri menyaru sebagai orang yang meninggal. Orang awam menyebutnya arwah penasaran atau roh gentayangan. Padahal ruh orang yang meninggal sedang berada di alam barzakh.

Jin kafir atau setan memiliki rupa yang amat buruk. Dalam Al-Qur'an disebutkan kepala setan itu seperti tandan belum mekar dari pohon yang keluar dari dasar neraka. Dalil: Ash-Shafat ayat 64-65. Setan memiliki dua tanduk. Dalil: Hadits riwayat Bukhari no. 3273, riwayat Muslim no. 828.

Tempat tinggal jin muslim adalah di tempat-tempat yang bersih seperti masjid, bagian-bagian di dalam rumah, pohon, tanah lapang. Sedangkan jin kafir bertempat tinggal di tempat-tempat kotor atau najis seperti toilet, tempat sampah, kuburan, dan pasar; juga di rumah-rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya. Karenanya muslim diajarkan untuk berdoa semisal saat akan masuk dan keluar toilet, untuk menciptakan tabir saat berada di dalam toilet agar bangsa jin tidak dapat melihat aurat kita. Kita juga diajarkan untuk senantiasa menyebut nama Allah, semisal saat hendak membuang air panas sebagai perlindungan mana tahu air panas yang kita buang mungkin menyakiti atau bahkan membunuh makhluk yang tidak dapat kita lihat itu.

Jin dapat menyaru menyerupai manusia siapapun itu -kecuali menyerupai Rasulullah shallallahu alayhi wasallam- dan menampakkan diri di hadapan manusia untuk mengganggu. Bahkah Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam sendiri pernah diganggu jin saat beliau sedang shalat.
"Sesungguhnya setan menampakkan diri di hadapanku untuk memutus shalatku. Namun Allah memberikan kekuasaan kepadaku untuk menghadapinya. Maka aku pun membiarkannya. Sebenarnya aku ingin mengikatnya di sebuah tiang hingga kalian dapat menontonnya. Tapi aku teringat perkataan saudaraku Sulaiman ‘alayhissalam: "Ya Rabbi anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku". Maka Allah mengusirnya dalam keadaan hina.” (Hadits riwayat Bukhari no. 4808, riwayat Muslim no. 541)

Telah diriwayatkan dalam berbagai hadits shahih tentang jin yang menampakkan diri di hadapan manusia:
1. Setan bernama Khanzab menampakkan diri di hadapan Utsman bin Abil 'Ash (Hadits riwayat Muslim no. 2203).
2. Abu Ayyub Al-Anshari menangkap jin (Hadits riwayat Ahmad no. 22488).
3. Abu Hurairah memergoki jin yang menyerupai laki-laki sedang mencuri zakat fithrah selama 3 hari berturut-turut. Beliau hendak menangkapnya, namun si jin memohon agar dilepaskan dan sebagai gantinya si jin mengajarkan ayat kursi sebagai doa perlindungan dari gangguan setan (Hadits riwayat Bukhari no. 2311).
4. Ibnu Zubair memergoki jin bernama Izib dan memukulnya (Ahkam Al-Marjan hal. 224).
5. Iblis datang ke rumah Qusay bin Kilab di Darun Nadwah sebagai seorang laki-laki tua mengaku utusan dari Nejd dan ikut berunding dengan pemuka Quraisy dalam rencana pembunuhan Rasulullah shallallahu alayhi wasallam (Hadits riwayat Ahmad dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid II).
6. Iblis muncul dalam perang Badar sebagai sosok Suraqah bin Malik menyemangati kaum kafir Quraisy (Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim Jilid II halaman 73).
7. Setan menjelmakan dirinya sebagai anjing berwarna hitam legam dengan titik putih di atas matanya atau di keningnya, Rasulullah shallallahu alayhi wasallam memerintahkan untuk membunuhnya. Dalil: Hadits riwayat Muslim no. 1572.
8. Jin muslim menampakkan diri dalam wujud ular di sekitar Madinah. Dalil: Hadits riwayat Muslim no. 2236.

Ketika jin berada dalam wujud aslinya, kita tidak akan dapat melihat mereka, bahkan Rasulullah sekalipun. Dalil: Hadits riwayat Bukhari dari Ibnu Mas'ud tentang sekumpulan jin ikut mendengarkan bacaan Al-Qur'an di majelis Rasulullah namun beliau tidak mengetahuinya.
Jika Rasulullah saja tidak bisa melihat hal ghaib tanpa izin Allah, apatah lagi kita manusia biasa? Dalil: Al-Jin ayat 26-27.
Karena sesungguhnya kunci-kunci ghaib hanyalah milik Allah semata. Dalil: An-Naml ayat 65, Luqman ayat 34, As-Sajdah ayat 6, Al-Baqarah ayat 33.
Hanyalah jin bisa dilihat manusia karena memang jin tersebut menginginkannya, dengan menyaru atau menyerupai seseorang atau sesuatu. Dan jika jin sedang menyaru, maka setiap manusia bisa melihatnya, menangkapnya, memukulnya, bahkan membunuhnya.

Jin kafir atau setan yang mengganggu, tidak akan berdaya menghadapi hamba Allah yang sholeh dan ikhlas. Dalil: Al-Isra' ayat 65.
Bahkan jin kafir atau setan takut kepada sebagian hamba Allah yang imannya benar dan ikhlas, semisal pada Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar bin Al Khaththab: “Sesungguhnya setan takut kepadamu, wahai Umar”. (Hadits riwayat Tirmidzi no. 2913)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda tentang Umar: “Sesungguhnya aku telah benar-benar melihat bahwa setan dari kalangan jin dan manusia benar-benar lari dari Umar”. (Hadits riwayat Tirmidzi no. 2914)

Wednesday, March 7, 2018

Taubat

Beberapa bulan lalu saya ketemu dengan seorang pebisnis hebat, Pak Lukman Drajat namanya. Dulu, dia pebisnis besar, omsetnya ratusan miliar setahun. Malah menjadi salah satu pengusaha paling kaya di Riau, katanya.

5 tahun lalu bisnisnya hancur karena salah urus. Tapi Pak Lukman malah bersyukur. Dia bilang: "Karena bisnis saya hancur,  jadi banyak yang berubah di diri saya. Saya merasa lebih baik, paling tidak menurut saya.. Dulu, saya shalat cuma seminggu sekali, Jumatan doang. Itupun kalo gak tabrakan dengan rapat penting. Sekarang alhamdulillah, bukan cuma shalat wajib, tiap malam saya berusaha untuk tidak meninggalkan shalat tahajud.

"Dulu, boro-boro shalat tahajud, shalat magrib aja gak ngerti kalo jumlahnya 3 rakaat. Pernah terjadi peristiwa sangat memalukan, saya ketinggalan shalat magrib 1 rakaat. Waktu imamnya salam, saya ikut salam. Lalu sebelah saya
mengingatkan: "Maaf Pak, Bapak kurang 1 rakaat! Dengan enteng saya menjawab: "Iya, nanti saya terusin di rumah!" Duh, kalau ingat peristiwa itu, kadang saya ketawa sendiri, malu sama orang sekompleks! Kadang saya nangis, malu sama Allah!"

"Dulu saya ketemu anak-istri 2-3 hari sekali, kadang seminggu sekali, malah pernah beberapa kali ketemunya cuma sebulan sekali. Sekarang saya selalu shalat berjamaah bersama anak istri di masjid terdekat. Saya tidak ngoyo lagi cari uang, karena saya ngerti sekarang, dunia akan saya tinggalkan pada akhirnya."

"Dulu saya ngejar-ngejar bisnis yang lebih besar dan lebih besar lagi. Tapi setelah saya kejar, ternyata semua hanya fatamorgana. Makin dapat yang lebih besar, saya malah makin haus, haus dan haus, nggak ada ujungnya. Sekarang saya hidup sederhana tapi merasa, lebih tenang, lebih nyaman, tak berurusan dengan hutang lagi."

"Dulu, saya hidup bersama harta dan bisnis saya. Sekarang, saya sedang belajar hidup bersama Allah SWT, Tuhan saya. Pelan-pelan saya mulai belajar Quran. Saya sering baca-baca terjemahan Al Quran. Saya cari orang seperti apa yang paling dicintai Allah menurut Al Quran? Waduh, ternyata orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang  taqwa, padahal saya jauh dari seperti itu."

"Lalu saya coba cari lagi orang seperti apa yang sangat dicintai Allah SWT berikutnya. Ternyata, saya menemukan orang yang berjihad di jalan Allah SWT. Wah, boro-boro berjihad, puasa senin-kamis aja kadang saya berat. Saya cari lagi, ternyata ketemunya orang sabar. Ini kayak yang gampang tapi setelah saya jalani seminggu saja ternyata jadi orang sabar itu sulitnya setengah mati! Sampai akhirnya saya ketemu bahwa Allah SWT sangat mencintai orang-orang kaya tapi yang menginfakkan hartanya di jalan Allah."

"Lha, coba saya tahunya sebelum bangkrut! Pasti sudah saya infakkan! Sekarang ketika semuanya sudah habis, saya hanya bisa berinfak sekedarnya saja. Coba dulu waktu usaha saya sedang maju....Tapi bener juga kata orang ya, menyesal datangnya selalu belakangan."

Pak Lukman terus mencari dan mencari sampai akhirnya dia menemukan bahwa Allah SWT sangat mencintai orang-orang yang bertobat. Duarrr!!! "Rasanya ini yang cocok buat saya", bisik Pak Lukman dalam hatinya.

Dia merasa sangat banyak dosa, terutama saat dia menjalankan bisnisnya. Tiap malam dia mengingat-ingat siapa saja yang pernah dicuranginya saat berbisnis dulu. Siangnya dia cari orang tersebut sampai ketemu. Begitu terus setiap hari. Dia cari nama-nama kolega bisnisnya di hp-nya satu demi satu sambil mengingat apa kesalahan dia kepada orang-orang tersebut. Dia pikir: "Percuma saya bertaubat kalau orang-orang yang pernah saya curangi dan saya dzolimi tidak saya mintakan maafnya."
Malamnya Pak Lukman tak pernah lupa memohon ampun, bersujud sambil terus mencari nama orang-orang yang pernah dia sakiti dan dia rugikan. Begitulah caranya dia bertaubat. "Semoga dengan usaha saya ini, saya jadi orang yang dicintai Allah." Begitu kata pak Lukman.

Setelah Pak Lukman bertaubat dan meminta maaf kepada teman-teman bisnisnya, dia benar-benar merasa lega. Teman-teman bisnisnya yang dulu hampir semuanya senang didatangi Pak Lukman. Mereka semua sudah melupakan masa lalu Pak Lukman.

Ada satu teman bisnis Pak Lukman yang bisnisnya sedang melejit, Pak Rudi Wor namanya. Ketika didatangi dia senang luar biasa. Dan yang mengejutkan. Pak Rudi Wor malah meminta Pak Lukman kembali terjun ke bisnis.

"Pak Lukman, ingat kata nabi, sebaik-baiknya ummatku adalah orang yang berguna buat orang banyak! Kalau kau bertaubat dan hidup di masjid terus, ibadah terus, itu namanya kau merencanakan jalan ke surga gak ngajak-ngajak teman! Ajak aku Pak! Aku rela masuk surga biarpun harus lewat pintu belakang. Ayo kita bisnis lagi. Sebagian keuntungannya buat bangun masjid, bangun pesantren dan membantu orang-orang yang seharusnya kita bantu!

"Masih banyak saudara kita yang harus kau tolong! Anak-anak yatim yang terpaksa putus sekolah, janda-janda jompo, orang-orang duafa yang tak berdaya, semua menunggu uluran tanganmu. Bayangkan kalau bisnismu maju! Berapa masjid yang bisa kau bangun? Berapa banyak anak yatim yang akan terselamatkan hidupnya, terselamatkan sekolahnya? Jalan ke surgamu pasti jauh lebih bagus. Allah SWT akan ridho membangun rumah khusus buatmu di surga nanti, Pak Lukman!"

Pikiran Pak Lukman mulai goyah. "Semua yang diomongin Rudi gak ada yang salah. Aku harus berguna buat banyak orang. Kenapa aku egois, kenapa aku menjadi orang yang mengasingkan diri?"

Takdir tak bisa ditolak. Kehadiran Pak Lukman memang seperti ditunggu Pak Rudi. Tak lama setelah Pak Lukman membangun bisnisnya atas bantuan Pak Rudi, Pak Rudi kena serangan jantung dan tak tertolong. Pak Rudi kembali ke pangkuan Allah SWT.

"Ya Allah, Rudi...engkau seperti sengaja menungguku datang untuk menerima amanatmu. Habis itu kau pergi selamanya. Semoga engkau menjadi teladanku. Semoga engkau masuk surga lewat pintu terbaik pilihanmu, tidak lewat pintu belakang..." Demikian bisikan Pak Lukman di ujung doanya.

Pak Lukman menggantikan Pak Rudi di perusahaannya atas surat wasiat yang ditulis Pak Rudi. Bisnisnya semakin besar. Dan seperti amanatnya Pak Rudi sebagian dari keuntungan perusahaannya dipakai untuk membangun masjid, pesantren, membiayai anak-anak yatim, fakir miskin, dan kaum duafa.
"Aku baru sadar sekarang, kenapa dulu usahaku bangkrut. Kenapa bisnisku besar tapi susah terus. Rupanya ada hak fakir miskin, hak yatim dan hak orang-orang jompo tak berdaya yang aku makan!”

“Makanan tidak halal itu mengalir deras dalam tubuhku, hingga Allah SWT tidak ridho dengan apa pun usahaku. Ini mungkin yang sering disebut orang tidak berkah. Sepanjang perjalanan bisnisku tak ada keberkahan di dalamnya, karena banyak hak orang lain yang aku makan, pikir Pak Lukman matanya berkaca-kaca.

Disadur dari tulisan Ndang Sutisna

*Repost dari WAG

Friday, December 22, 2017

Kisah Alqomah dan Ibunya

Tersebutlah seorang ahli ibadah pada masa Nabi Muhammad Rosululloh SAW.
Hari-hari digunakan untuk berdzikir dan mengerjakan sholat tahajjud. Ia pun senang bersedekah dan mengerjakan kebaikan-kebaikan. Orang-orang memanggil Alqomah. Ia tinggal di sebuah rumah bersama istri yang dicintainya. Sementara ibu Alqomah yang sudah tua tinggal sendiri di desa.
       Suatu ketika Alqomah jatuh sakit. Makin lama sakitnya makin para. Hingga ia pun tidak bisa berbuat apa-apa melainkan hanya berbaring di atas tempat tidur. Istrinya yang merasa bahwa Alqomah sedang mengalami naza’ atau sakaratulmaut mengutus seseorang untuk melaporkan keadaan ini kepada Rasululloh SAW. Setelah mendengar cerita itu, Rasullullah mengutus tiga orang sahabat yaitu Bilal, Amar dan Suhaib untuk menengok Alqomah. Beliau berpesan agar mereka mengajarkan kalimat talqin pada Alqomah.
       Sesampainya di rumah Alqomah, ketiganya langsung menemui Alqomah yang sedang mengalami sakaratulmaut. Mereka lalu menuntunnya agar melafatkan kalimat Laa ilaaha illallah.
Tetapi apa yang terjadi ? Mulut Alqomah tidak terbuka sedikitpun. Berkali-kali ketiga pemudah itu mengajarkan, berkali-kali pula mulut Alqomah seperti terkunci. Ketiganya heran. Padahal Alqomah adalah orang yang ahli ibadah, tapi kenapa tidak bisa membaca kalimat sesederhana itu. Dengan menyimpan rasa tidak percaya ketiganya pulang menghadap Rasullulah SAW. Mereka langsung menceritakan kejadian itu. Rasullulah bertanya.
       ‘’Apakah orang tua Alqomah masih hidup ?’’
       ‘’Wahai Rasullullah… Alqomah mempunyai seorang ibu yang tua’’       ‘’Kalau begitu pergilah kalian menemui Ibunda Alqomah. Jika ia masih kuat untuk berjalan, mintalah ia agar datang kemari. Tapi jika tidak, biar aku saja yang kesana’’  
       Maka pergilah Bilal, Amar dan Suhaib ke rumah Ibunda Alqomah. Sesampainya disana mereka langsung mengutarakan maksud kedatangan mereka. Tanpa berpikir panjang Ibunda Alqomah bergegas memenuhi panggilan Rosululloh walaupun berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat.
       Sesampainya di rumah Rosululoh, Ibunda Alqomah diberitahu mengenai keadaan anaknya. Namun ia nampak biasa saja mendengar berita itu seolah tidak mau tahu tentang apa yang sedang dialami  oleh Alqomah. Hal ini membuat Rosululloh ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi antara ibu dan anak tersebut.
       “Wahai Ibunda Alqomah…. Aku ingin bertanya kepadamu dan jawablah pertanyaanku dengan jujur. Bagaimana penyaksian Ibu terhadap putra Ibu yang bernama Alqomah….?”
       Ibunda Alqomah diam sejenak, lalu berkata….
       “Alqomah adalah seorang anak laki-laki yang ahli sholat, ahli puasa dan ahli shodaqoh… Akan tetapi….”
       Ibu Alqomah tidak meneruskan kalimatnya. Matanya berkaca-kaca seolah memendam suatu beban perasaan yang sangat berat.
       “Akan tetapi apa…Ibu…?” tanya Rosululloh.
       “Aku sangat marah kepadanya…”
       Ibu Alqomah tidak dapat membendung air matanya. Ia menangis terisak-isak dihadapan Rosululloh.
       “Apa masalahnya….Ibu….?”
       “Semenjak Alqomah menikah dengan perempuan yang dicintainya… ia mulai melupakan aku…. meremehkan aku…. ia lebih mementingkan kepentingan istrinya daripada aku. Ia lebih mendengar kata-kata istrinya daripada nasehatku.
Padahal akukan ibunya… aku sangat sakit hati, karena Alqomah tidak pernah sedikitpun menyadari kesalahannya lalu minta maaf kepadaku… yaaahh…. sampai sekarang aku tidak ridho kepadanya…”
       Rosululloh telah menemukan jawaban atas keadaan yang dialami Alqomah. Kemarahan ibunyalah yang menyebabkan Alqomah mengalami beratnya sakaratulmaut, karena lisannya tidak mampu melafadzkan kalimat “Laa ilaaha illalloh…”
       “Wahai Bilal…” panggil Rosululloh.
       “Cari dan kumpulkan kayu bakar yang banyak”
       Ibunda Alqomah merasakan sesuatu yang janggal dari ucapan Rosululloh.
       “Untuk apakah kayu bakar itu, wahai Rosululloh… apa yang akan kau perbuat terhadap Alqomah ?”
       “Membakarnya” jawab Rosululloh singkat.
       “Apa ?! Wahai Rosululloh… betapapun marahnya aku kepada Alqomah, mana mungkin aku sampai hati kalau ia dibakar api… mohon jangan lakukan itu…”
       “Tahukah Ibu…Adzab Alloh lebih mengerikan dan lebih kekal. Kalau memang Ibu ingin Alloh mengampuni dosa Alqomah, maka Ibu harus mau memaafkan semua kesalahan Alqomah terhadap Ibu lalu Ibu meridhoinya… Sebab semua ibadah yang telah dikerjakan Alqomah, seperti, sholat, berpuasa dan bersedekah, semua itu tidak ada artinya bagi Alqomah selama Ibu masih memendam amarah terhadapnya...”
       Walau bagaimanapun, orang tua tetaplah orang tua yang tidak mungkin tega melihat anaknya menderita. Ibunda Alqomah pun tidak rela kalau anaknya mendapat adzab dari Alloh.
       “Baiklah wahai Rosululloh, aku bersaksi kepada Alloh dan para malaikat-Nya. Aku juga  bersaksi dihadapan orang-orang iman yang hadir disini bahwa sekarang juga aku memaafkan semua kesalahan yang pernah dilakukan oleh Alqomah terhadapku… dan aku meridhoinya…”
       “Bilal…!”
       “Ya, Rasululloh…”
       “Pergilah ke rumah Alqomah. Lihatlah, apakah ia sudah bisa mengucapkan kalimat   Laa ilaaha illalloh… aku kuwatir jangan-jangan pernyataan Ibunda Alqomah tadi tidak berasal dari dalam hatinya melainkan hanyalah sungkan kepadaku”
       Berangkatlah Bilal menuju rumah Alqomah. Begitu sampai didepan rumah ia menjumpai telah banyak orang-orang berdatangan. Tiba-tiba Bilal mendengar suara Alqomah dengan Faseh dan jelas melafadzkan kalimat Laa ilaaha illalloh…
       Sampai didalam rumah Bilal menjumpai Alqomah telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Lalu Bilal berkata….
       “Wahai orang-orang yang hadir disini. Ketahuilah bahwa amarah ibunya telah menghalang-halangi Alqomah untuk membaca kalimat talkin. Dan sekarang berkat ridho ibunya ia bisa mengucapkan kalimat itu…”
       Tak lama kemudian Rosululloh beserta orang-orang iman datang berta’ziyah. Mereka lalu memandikan, mengkafani dan mensholati jenazah Alqomah. Kemudian diantar beriringan oleh Rosululloh dan orang-orang iman menuju tempat pemakaman.
       Pemakaman Alqomah pun selesai dilaksanakan. Sementara para pengantar masih berada ditempat pemakaman, Rosululloh bersabda….
       “Wahai orang-orang iman, muhajir dan anshor…… Siapa saja yang mengutamakan kepentingan istrinya hingga melalaikan ibunya, maka ia akan mendapatkan laknat Alloh, laknat para Malaikat dan laknat semua para manusia. Alloh tidak menerima amal ibadahnya, baik yang wajib maupun yang sunnah, kecuali jika ia bertaubat dan berbuat baik serta mencari ridho ibunya. Sebab ridho Alloh beserta ridhonya ibu dan murka Alloh beserta murkanya ibu”.

Tuesday, December 12, 2017

Asal Usul Istilah Mata Keranjang

Sering kali kita mendengar istilah mata keranjang untuk menggambarkan sifat seseorang yang selalu tergoda ketika melihat perempuan yang berpakaian seksi atau semacamnya. Namun dari manakah asal mula istilah "mata kerangjang" tersebut. Simak tulisan berikut yang dirangkum dari berbagai sumber.  

Salah satu pendapat dari budayawan Remi Sylado, istilah ini asal mulanya terkait dengan persoalan ada kekeliruan ketika melakukan transkripsi dan transliterasi dari tulisan Arab-gundul (sebagai tulisan awal Melayu) ke dalam aksara Latin. 

Pada tulisan Arab-gundul, mata keranjang dibentuk dengan huruf-huruf mim digandeng dengan alif dan ta, lalu kaf digandeng ra menyusul nun, jim, dan ngain. Jadi, karena kaf dan ra disatukan, maka pelatinannya menjadi keranjang.

Pada waktu itu, penulisan kata depan ke digabungkan dengan kata yang mengikutinya. Mestinya, dengan Ejaan Yang Disempurnakan, "mata keranjang" ditulis sebagai "mata ke ranjang", yang maksudnya adalah lelaki atau perempuan yang tergiur melihat lawan jenisnya dengan mata, lantas pikirannya tertuju ke ranjang.
Jadi, bukannya mata keranjang, melainkan [dari] mata ke ranjang.

Menurut analisis penulis, bila melihat dari tulisan tersebut di atas secara tidak langsung ada dua pemaknaan yang berbeda dari kata Mata keranjang.

Makna mata keranjang pertama : sebagai suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang terhadap lawan jenis dengan mata sebagai sarananya, yang kemudian secara langsung atau tidak menimbulkan suatu reaksi secara nafsu tergiur dan pikiran negatif yang bersifat pada hal tabu.

Makna mata keranjang kedua : sebagai suatu sifat dari seseorang yang mempergunakan panca inderanya yakni matanya untuk melihat lawan jenis yang menyebabkan efek tergiur.

Tetapi apapun arti dari kata mata keranjang tetap saja berkonotasi pada hal yang negatif. 

Dikumpulkan dari berbagai sumber.