Bisikan Terakhir Seorang Ibu yang Mengubah Dunia
*Senja di Yatsrib*
Tahun 576, di Yatsrib, kota yang kelak bernama Madinah, seorang ibu muda berusia 20-an tahun terbaring di lantai atas rumah keluarganya.
Namanya Aminah binti Wahb.
Pagi itu ia turun lalu menggandeng tangan putranya yang berusia 6 tahun ke pemakaman Bani Najjar.
Enam tahun ia menunda kunjungan itu.
Enam tahun ia hidup seolah suaminya, Abdullah, hanya sedang dalam perjalanan dagang yang belum kembali.
Kini, di depan gundukan tanah makam sederhana yang ditandai pelepah kurma kering dan bata lumpur, kenyataan itu akhirnya berhadapan langsung dengannya. Dia gemetar. Aminah jatuh tersungkur.
Lalu ia digotong pulang, tubuhnya panas, lemas, dan ia menolak makan.
Barakah (Ummu Aiman), pengasuh setia dari negeri Habasyah, membasuh dahi Aminah dengan kain hangat basah. Ia berpikir bahwa kali ini tidak akan ada akhir yang bahagia.
Lalu ia membawa anak Aminah keluar kamar agar anak itu tidak melihat ibunya meregang nyawa.
Menjelang matahari terbenam, Aminah memanggil anaknya dengan suara terbata-bata.
Anaknya yang masih kecil itu masuk, lalu berdua tangisan pecah.
Lalu Barakah menyandarkan Aminah pada bantal agar ia bisa merengkuh putranya ke dalam pelukan.
Air mata sang ibu membasahi rambut anaknya. Lalu anak kecil itu, yang tadi pagi baru pertama kali berdiri di depan makam ayahnya, menghentikan tangisannya, lalu mengusap air mata ibunya dengan tangan mungilnya.
Ia memegang dagu dan pipi ibunya sambil berkata bahwa ia sangat menyayangi ibunya.
Bayangkan, tangan sekecil itu, di hari berat itu, masih berusaha menghapus kesedihan ibunya.
Aminah tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menciumi putranya dan mencoba memeluknya dengan sisa tenaga terakhir.
Lalu, sambil menatap samar mata hitam yang besar itu, ia mengumpulkan napas penghabisan:
_*"Ya Muhammad, kun rajula… kun rajula."*_
_Wahai Muhammad, jadilah insan yang mengubah._
Kemudian ia memejamkan mata untuk selama-lamanya.
Matahari telah tenggelam.
Bulan purnama naik dan cahayanya jatuh ke kamar sunyi itu, menyinari seorang anak yatim-piatu yang menangis terisak-isak di atas jasad ibunya.
Ia menangis tanpa tahu bahwa kelak ia sendiri akan dijuluki sebagai *Al-Badr* ("Bulan Purnama"), yaitu cahaya yang menerangi kegelapan.
*Mengapa ia pilih dua kata itu: “Kun Rajula”?*
Orang-orang di dalam kamar itu bertanya-tanya: mengapa seorang ibu menghabiskan napas terakhirnya untuk memikulkan amanah seberat itu di pundak anak kecil berusia enam tahun?
Mengapa ia tidak berkata "jaga dirimu, Nak", "jangan lupakan ibu, Nak", atau "ibu sayang padamu, Anakku"?
Jebara menjelaskan bahwa akar kata *rajula* pada mulanya menggambarkan keahlian langka seorang pengrajin: kemampuan mengubah batu mentah yang kusam menjadi perhiasan yang memancarkan cahaya.
Susunan kata *kun rajula* menjadikannya keadaan yang terus-menerus, sebuah jati diri, sebuah kepribadian, sebuah karakter—bukan pekerjaan sesekali saja.
Jadi yang dibisikkan Siti Aminah, ibunya, sesungguhnya kira-kira adalah begini:
*Nak, dunia ini penuh dengan batu-batu kasar. Ada manusia kasar, ada perangai kasar, ada keadaan yang kasar, ada nasib yang kasar. Jadilah engkau tangan yang mengubahnya dari yang kasar menjadi permata. Dan itu bukan sekali-sekali, Nak. Jadikanlah itu karaktermu, jadikan itu kepribadianmu, jadikanlah itu dirumu, Nak—selamanya.*
Aminah tidak meninggalkan emas, tanah, atau rumah. Ia meninggalkan sesuatu yang tidak bisa dicuri perampok, tidak bisa lapuk dimakan waktu, dan tidak bisa hilang ditelan gurun. Ia meninggalkan sebutir benih di dalam rongg qolbu anaknya, Muhammad.
Jebara menulis bahwa Muhammad membutuhkan puluhan tahun untuk benar-benar memahami hadiah perpisahan dengan ibunya itu.
*Fajar pemakaman: hari tanpa sepatah kata*
Muhammad kecil menghabiskan sepanjang malam itu memeluk jasad ibunya.
*Shubuh itu*
Menjelang shubuh, tiga orang lelaki menuju area pemakaman dengan cangkul. Mereka menggali liang lahat di kaki makam Abdullah. Suami dan istri itu akan berbaring berdekatan.
Jengkerik malam itu perlahan berhenti bernyanyi dan burung-burung kecil mulai terdengar berkicau. Embun menyelimuti tanah seperti kain pucat yang basah.
Para perempuan memandikan Aminah, meminyakinya dengan wewangian, dan membungkusnya dengan tiga lapis kain linen putih.
Ketika ayam jantan berkokok, iring-iringan jenazah bergerak. Kerabat mengangkat pelepah-pelepah kurma di atas jasad sehingga keranda itu seakan terbungkus kepompong hijau.
Muhammad berjalan di belakangnya dalam keadaan diam. Jebara mencatat bahwa hari itu ia tidak mengucapkan satu patah kata pun.
Ia melihat kain putih itu diturunkan ke liang kubur dan ditutup dengan batu-bata. Lalu tanah itu ditimbunkan, butir demi butir, hingga menjadi dinding yang memisahkan seorang anak dari ibunya untuk selamanya.
*”Yatim": sebuah kata yang berarti tidak lengkap*
Hari itu, di mata masyarakatnya, Muhammad resmi menjadi *yatim-piatu*. Jebara mengingatkan bahwa kata ini dalam budaya Arab saat itu mengandung makna yang lebih kejam dari sekadar "tanpa orang tua". Makna yang lebih luas adalah "tidak lengkap", manusia yang kurang, manusia yang bolong.
Di tanah tempat martabat diukur dari ayah yang melindungi, ibu yang merawat dan menyayangi, dan saudara yang membela, bocah kecil itu tidak punya apa-apa. Dia tidak punya siapa-siapa. Ia tidak punya ayah, ibu, maupun saudara kandung. Seluruh modal sosial yang dibutuhkan untuk berarti di dunia itu sama sekali tidak ia miliki.
Lalu bagaimana mungkin anak yang "tidak lengkap", “bolong”, dan “kurang” itu harus memenuhi wasiat ibunya untuk mengubah dunia? Jebara menyebutnya sebagai tugas yang tampaknya *mustahil*!
Hatta, tak ada waktu untuk berkabung. Kafilah menuju Makkah sudah berangkat sehari sebelumnya. Muhammad dan Barakah dinaikkan ke atas kuda dan dipacu mengejar kafilah hingga tersusul di sumur Badar.
Sepanjang dua minggu perjalanan melintasi gurun, Muhammad kecil hampir terus menangis dan sulit tidur.
Anak ini belum tahu bahwa di sumur Badar yang sama—puluhan tahun kemudian ia akan berdiri sebagai pemimpin umat manusia.
*Benih yang tumbuh menjadi hutan*
Di sinilah letak rahasia yang paling menyayat sekaligus paling menguatkan: luka itu tidak membunuhnya, justru luka itulah yang membentuknya. Menumbuhkannya.
Anak yang merasakan dingin, khawatir serta ketakutan kehilangan itu tumbuh menjadi manusia yang paling hangat kepada anak yatim. Dan kelak Allah SWT sendirilah yang menghiburnya dengan ayat yang sangat lembut seperti belaian seorang Ibu, dan bahkan lebih:
_”Bukankah DIA mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?"_
(QS Ad-Dhuha: 6)
Beliau Rasulullah Muhammad SAW kemudian bersabda, sambil merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk belitan—bahwa Beliau dan orang-orang yang menanggung dan memelihara anak yatim akan berdekatan dengan Beliau di surga—seperti dua jari itu (HR. Bukhari).
Itu seakan-akan Beliau berkata: *Aku tahu rasanya. Aku pernah menjadi anak yang yatim.*
Dalam riwayat hadis yang masyhur (HR. Muslim), bertahun-tahun kemudian, ketika Beliau telah menjadi pemimpin yang disegani di seluruh jazirah Arabia.
Beliau meminta izin kepada Rabb-nya untuk menziarahi makam ibunya. Izin itu diberikan. Di depan pusara ibunya itu, lelaki itu seolah melihat wanita yang mengasihinya, yang memeluknya dan wafat saat memeluknya. Lelaki itu menangis dan semua orang-orang di sekelilingnya ikut menangis.
Anak 6 tahun yang dulu hanya menangis di pemakaman dan tidak bisa berkata apa-apa itu—ternyata ia masih hidup di dalam dada Rasulullah SAW ketika kembali di makam ibunya.
Wasiat Aminah juga tidak berhenti pada putranya. Jebara menunjukkan bahwa Muhammad kelak menggunakan susunan kalimat yang persis sama untuk menitipkan misi kepada orang lain. Kepada Jundub, pemuda dari suku Ghifar, suku paling ditakuti di jazirah Arabia, Beliau memberi nama baru sekaligus amanah: *"Kun Aba Dzarr!"* (Jadilah penebar benih yang jauh jangkauannya). Pemuda itu kembali ke kaumnya seorang diri, dan bertahun-tahun kemudian datang ke Madinah bersama rombongan besar yang telah berubah.
Benih yang ditanam seorang ibu di Yatsrib diteruskan oleh anaknya kepada muridnya, lalu oleh muridnya itu kepada sebuah kabilah, dan terus berlanjut hingga hari ini sampai kepada kita yang membaca kisahnya, hingga akhir zaman kelak.
Di akhir bukunya, Jebara menegaskan bahwa kata-kata terakhir Aminah itu bergema melampaui bocah enam tahun itu dan sampai kepada manusia dari segala latar belakang di sepanjang zaman: berusahalah menjadi pengubah dunia dengan kebaikan dengan caramu sendiri.
*Tanamlah, walau kiamat di depan mata*
Barangkali karena teladan ibunya itulah Muhammad kelak bersabda: _jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit pohon, tanamlah._
(HR. Ahmad)
Renungkan hadis ini dalam cahaya kisah Aminah.
Aminah menanam di detik-detik terakhir hidupnya.
Ia tidak akan pernah melihat anaknya tumbuh dewasa, tidak akan menyaksikan Gua Hiro, Madinah Al-Munawwaroh, atau Fathu Makkah. Ia tidak akan pernah tahu bahwa bisikannya menjadi awal dari sebuah peradaban. _Ia hanya menanam, lalu memejamkan mata._
_Dan Allah yang menumbuhkannya_.
Selamat malam. Semoga bermanfaat.
— Diambil dari buku _Muhammad, The World Changer: An Intimate Portrait_ (St. Martin’s Essentials/St. Martin’s Press, 2021), oleh Dr. Mohamad Jebara, seorang cendekiawan Islam, sejarawan, ahli bahasa Semitik (termasuk bahasa Arab Klasik dan Ibrani Alkitab), filolog, eksegete, imam, dan penulis. Beliau tinggal di Ottawa, Ontario, Kanada. Beliau mulai menghafal Al-Quran sejak usia 10 tahun dan menjadi Hafidz Quran pada usia 12 tahun.