- Hujan deras adalah tantangan. Jangan minta agar hujan dikecilkan, tapi mintalah payung yg lebih besar.
- Waktu banjir, ikan makan semut ; waktu surut, semut yang makan ikan. Semua orang ada giliran/waktunya; Jangan sombong. (Note: Kehidupan seperti roda pedati yg berjalan; kadang di atas...kadang di bawah).
- Hidup bukanlah peduli dipermulaan saja, tapi seberapa besar kepedulian kita sampai akhir.(Note: Pekerjaan yg disenangi Allah...adalah pekerjaan (meski) kecil, tetapi dilakukan secara terus menerus).
- Orang sering "melempar batu" di jalan kita. Tergantung kita mau mambuat batu itu jadi "Tembok atau Jembatan". (Note: Atau gantian utk dipakai melempar....).
- Setiap masalah punya (n+1) sejumlah solusi, dimana n adalah banyaknya solusi-solusi yang telah anda coba, dan 1 adalah yg belum anda coba. Coba terus sampai BISA ya.! Never give up :) (Note: Ingat bersama 1 kesulitan akan disertai dengan 2 kemudahan)".
- Tidaklah penting untuk punya semua 'kartu bagus' dalam 'games' kehidupan, yang penting adalah seberapa bagus anda memainkannya.
- Seringkali saat kita putus asa dan mengira ini adalah akhir,,, Tenanglah dulu,,, itu baru belokan, bukan jalan buntu. Milikilah iman yang teguh dan kuat.
- Jadilah giat untuk mendapatkan apa yg anda cita-citakan dan jadilah seperti anak-anak untuk menikmati yang telah anda dapatkan.
Saturday, August 27, 2011
8 Filsafat Kehidupan
Sumber: "Chinese book of Wisdom":
Thursday, August 25, 2011
Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, ‘Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?’.
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, ‘Betul, Dia yang menciptakan semuanya’.
‘Tuhan menciptakan semuanya?’ tanya professor sekali lagi.
‘Ya, Pak, semuanya’ kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, ‘Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.’
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, ‘Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?’ ‘Tentu saja,’ jawab si Profesor. Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, ‘Profesor, apakah dingin itu ada?’
‘Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?’ Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, ‘Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata ‘dingin’ untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, ‘Profesor, apakah gelap itu ada?’
Profesor itu menjawab, ‘Tentu saja itu ada.’
Mahasiswa itu menjawab, ‘Sekali lagi anda salah Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.’
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, ‘Profesor, apakah kejahatan itu ada?’
Dengan bimbang professor itu menjawab, ‘Tentu saja, seperti yang telah
kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.’
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, ‘Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, ‘kejahatan’ adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih sayang Tuhan di hati manusia.
Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.’ Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.
http://en.wikipedia.org/wiki/Albert_einstein
Saturday, August 20, 2011
Hikmah Tembang "Gundul-Gundul Pacul" Karya Sunan Kalijaga
Salah satu tembang jawa yang sangat terkenal adalah Gundul Pacul sebagi beikut.
"Gundul gundul pacul cul, gemblelengan,"
"Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan,"
"Wakul ngglimpang segane dadi sak latar."
Tembang Jawa ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yang dalam dan sangat mulia.
'Gundul' adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Jadi gundul adalah kehormatan tanpa mahkota.
'Pacul' adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul ini merupakan lambang kawula rendah, rakyat jelata, kebanyakan para petani.
'Gundul pacul' artinya adalah bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas).
Kemuliaan seseorang tergantung 4 hal, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.
1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
2. Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4. Mulut digunakan untuk berkata adil dan bijaksana.
Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.
Gembelengan artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.
"Gundul-gundul pacul cul" = jika orang yang kepalanya sudah kehilangan 4 (empat) indera itu mengakibatkan 'GEMBELENGAN' (= congkak/sombong).
"Nyunggi-Nyunggi Wakul Kul" = menjunjung amanah rakyat) dengan GEMBELENGAN (sombong hati), akhirnya
"WAKUL NGGLIMPANG" = amanah, jabatan jatuh tidak bisa dipertahankan.
"SEGANE DADI SAK LATAR" = berantakan sia-sia, tidak bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat.
Jadi kalau sedang nyunggi wakul janganlah gembelengan.
Semoga bermanfaat.
Link : Lagu Gundul Pacul di Youtube
Satu Jam Tidak Berbuat Dosa
Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya :
”Apakah kita bisa hidup tidak berbuat berdosa atau kesalahan selama hidup kita…?“
Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata :
”Tidak, nak…itu hal yg mustahil… “
Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi…
”Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun…?”
Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya…tidak wahai putri kecilku…
”Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?”
Ayahnya tertawa…
”Mungkin tidak bisa juga, nak…”
”OK… ayah, ini yang terakhir kali…
Apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja…?”
Akhirnya ayahnya mengangguk…
“Kemungkinan besar, bisa nak…”
Anak ini tersenyum lega…dan berujar:
”Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah…
Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar… “
Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati… Marilah kita hidup dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan cara kita menjalani hidup ini…
Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun…
Akan menjadikan kita terbiasa…(kebiasaan)
Dan apa yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi sifat…
Dan sifat akan berubah jadi karakter… dan karakter inilah yg menjadi ‘nasib kita’…
Semoga kita dapat mengambil ‘ibrah, pelajaran’ dan dpt mengamalkannya. Amin x 3 yaa rabbal’alamin.
Wawancara Kerja
Adalah seorang anak muda yang cerdas dan sangat pintar. Dia baru saja lulus sarjana dengan predikat cum laude. Selama kuliah, dia juga mengoleksi beberapa penghargaan dan prestasi. Intinya, si anak muda ini benar-benar top. Dan iapun bangga dengan kemilau prestasinya tersebut. Rasa percaya dirinya begitu tinggi.
Setelah lulus, ia lalu mencari pekerjaan. Saat melamar ke sebuah perusahaan terkenal, tidak sulit baginya untuk lolos dari tes-tes saringan, hingga sampailah ia ke tahap terakhir: wawancara dengan Direktur perusahaan tersebut. Saat wawancara tiba, terjadilah dialog antara pak Direktur dengan si anak muda.
“Prestasimu sungguh luar biasa, anak muda. Bagaimana kamu bisa punya prestasi setinggi itu?”, tanya pak Direktur.
“Saya belajar keras, pak. Saya selalu memacu diri saya sendiri, dan memupuk kepercayaan diri saya.”, jawab si anak muda.
“Siapa yang mendorong dan memotivasimu? Ayahmukah?”
“Bukan pak. Ayah sudah meninggal sejak saya kecil. Saya terbiasa memotivasi diri sendiri untuk menjadi yang terbaik.”
“Kalau ayahmu sudah meninggal, siapa yang membiayai sekolahmu?”
“Ibu saya, pak.”
“Oh begitu…lalu apa pekerjaan ibumu?”
“Ibu saya menjadi pencuci baju, pak. Beliau menerima order cucian dari para tetangga.”
Mendengar jawaban si anak muda tersebut, pak Direktur lalu berkata,”Coba ulurkan tanganmu, anak muda”. Meski agak heran dengan permintaan ini, si anak muda lalu mengulurkan tangannya ke pak Direktur, yang lalu memeriksanya dengan cermat. Ternyata tangan itu bersih, putih, dan mulus. Tidak ada tanda-tanda pernah digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan kasar. Pak Direktur lalu bertanya,”Pernahkah kamu membantu ibumu mencuci pakaian, nak?”
“Tidak pak, tak pernah sekalipun.”
“Kalau begitu sekarang pulanglah, dan bila bertemu dengan ibumu, coba perhatikan dengan cermat tangan beliau. Lalu cobalah lakukan pekerjaan ibumu. Besok kamu kembali lagi ke sini, temui saya, dan ceritakan pengalamanmu.”, demikian pesan pak Direktur kepada si anak muda.
Pulanglah si anak muda tadi, dan sesampai di rumah, disampaikanlah kata-kata pak Direktur kepada ibunya. Meskipun agak heran, ibunya menurut saja dan menyorongkan kedua tangannya kepada anak yang disayanginya. Begitu melihat tangan orang tua tadi, kagetlah si anak. Ini adalah pertama kalinya ia mengamati tangan ibunya secara cermat. Tampaklah olehnya tangan yang keriput, kasar, dan bersisik. Di beberapa tempat bahkan terlihat bekas-bekas luka. Sungguh kontras bila dibandingkan dengan tangannya sendiri yang bersih dan mulus.
“Ibu….”, dan si anak mudapun tercekat tak mampu berkata apapun. Mengalirlah sebutir air matanya.
“Kenapa tangan ibu sampai begini? Ibu bekerja terlalu berat. Maafkan aku yang tak pernah tahu keadaan ibu seperti ini”, bisik si anak sambil membelai dan menciumi tangan ibunya.
Ibunya tersenyum saja. “Tidak apa-apa nak. Ibu ikhlas bekerja keras untukmu. Buat ibu, yang penting kamu bisa fokus belajar. Ibu bahagia akhirnya kamu bisa lulus dengan baik. Itu satu-satunya yang penting buat ibu.”
Mendengar ucapan ibunya, runtuhlah kebanggaan si anak muda. Hilanglah semua ke-aku-annya. Sampai detik itu ia merasa bahwa semua prestasinya adalah usahanya sendiri. Kenyataannya, tanpa pengorbanan ibunya, dia tidak akan menjadi apa-apa. Nothing…
Dia merasa seperti semakin terlempar ke titik nadir setelah mencoba melakukan permintaan pak Direktur berikutnya: mencuci pakaian, seperti yang biasa dilakukan ibunya. Ternyata bagi dia yang tidak pernah mencuci pakaian sendiri, pekerjaan merendam, mengucek, membilas, dan memeras sungguh tidak mudah dilakukan. Baru beberapa potong baju saja, tangannya sudah merasa perih.
Malam itu si anak muda tidak bisa tidur. Dunianya seolah dibalik dalam sekejap mata. Keyakinan dan persepsinya selama ini patah begitu saja setelah ia melihat apa yang telah dilakukan ibunya selama ini.
Keesokan harinya ia datang menghadap ke pak Direktur, yang langsung saja bertanya,”Apa yang kamu rasakan dan pikirkan, anak muda?”
Si anak muda menghela nafas, lalu menjawab sambil tertunduk,”Ada dua hal yang saya pelajari, pak…”
“Katakan nak, apa dua hal itu.”
“Yang pertama, saya sadar selama ini saya tidak pernah memperhatikan orang lain. Saya tidak pernah mengapresiasi apa yang telah mereka lakukan, bahkan untuk hal-hal yang terkait dengan kepentingan saya sekaliapun…”, si anak muda menjawab sambil menahan air mata karena teringat akan ibunya. Lalu ia menyambung,
“Yang kedua, saya tidak pernah menyadari bagaimana beratnya mencapai sebuah tujuan. Selama ini saya merasa bahwa menjadi lulusan terbaik itu mudah. Saya pikir dengan belajar keras saja sudah cukup. Tapi ternyata tidak, pak... Ternyata banyak hal lain yang harus dilakukan, dan itu tidak pernah saya kerjakan, bahkan saya pikirkanpun tidak...Saya buta terhadap usaha-usaha lain yang dilakukan oleh ibu saya. Beliau bekerja begitu berat semata-mata hanya untuk kepentingan saya…“
Mendengar kata-kata si anak muda tadi, pak Direktur tersenyum. “Anak muda, kamu diterima di perusahaan ini.”
Si anak muda mendongak kaget.”Pak, apa maksud Bapak?”
“Aku tidak mencari karyawan yang pintar tapi tidak peduli pada sekelilingnya. Aku tertarik padamu bukan karena kepintaranmu saja, tapi pada kesadaranmu tentang sensitivitas pada sekelilingmu, tentang sulitnya mencapai sebuah tujuan dan pentingnya kerjasama, dan tentang pentingnya mengapresiasi dan menghargai apa yang dikerjakan orang lain.”
Mendengar penjelasan pak Direktur, si anak muda merasa ia hidup dalam dunia yang baru.
Sunday, January 10, 2010
Pelajaran Tersenyum
Terlepas dari benar tidaknya kisah berikut ini, ada hikmah yang dapat kita petik agar kita lebih memperhatikan lingkungan di sekitar kita. Melatih kita agar meningkatkan kepedulian kita kepada sesama manusia terutama orang-orang yang menderita, para fakir dan miskin yang jumlahnya cukup banyak di negara kita ini.
Semoga bermanfaat.
Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah. Kelas terakhir yang saya ambil adalah sosiologi. Dosen kami adalah seorang yang sangat inspiratif dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhirnya diberi nama "Tersenyum". Seluruh mahasiswa diminta untuk pergi keluar dan tersenyum kepada tiga orang dan mendokumentasikan reaksi mereka.
Saya adalah seorang yang mudah bersahabat, selalu tersenyum pada setiap orang, dan menyapa "hallo". Saya pikir, tugas ini sangatlah mudah. Segera setelah menerima tugas itu, saya bersama suami dan anak bungsu saya pergi ke restoran McDonald's. Waktu itu pagi di bulan Maret yang sangat dingin dan kering.
Kami berdiri dalam antrian menunggu untuk dilayani. Tiba-tiba semua orang di sekitar kami menyingkir, bahkan suami saya ikut menyingkir. Saya tidak bergerak sama sekali. Suatu perasaan panik menguasai diri saya. Saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir. Ketika itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang sangat menyengat. Tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma.
Ketika saya memandang laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri dekat dengan saya, ia "tersenyum". Matanya berwarna biru langit indah seakan berharap untuk dapat diterima. "Good day," katanya sambil menghitung beberapa koin yang telah ia kumpulkan. Lelaki yang kedua berdiri di belakang temannya. Tangan bergerak-gerak aneh. Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita keterbelakangan mental. Sedangkan lelaki bermata biru adalah penolongnya. Saya menahan haru ketika berdiri di sana bersama mereka. Wanita muda di counter menanyai pesanan lelaki itu. Yang lalu dijawabnya, "Kopi saja, nona" karena hanya itulah yang mampu mereka beli. Asal tahu saja, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, kita harus membeli sesuatu. Ia hanya ingin menghangatkan badan.
Kemudian saya benar-benar merasakan desakan yang sedemikian kuat sehingga saya hampir saja merengkuh dan memeluk lelaki kecil bermata biru itu. Tetapi saya menyadari bahwa semua mata di restoran menatap saya, menilai semua tindakan saya. Saya tersenyum dan berkata pada wanita di belakang counter untuk memberikan pada saya dua paket makan pagi lagi dalam nampan terpisah.
Kemudian saya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya. Saya meletakkan nampan itu di atas meja. Saya menyentuh tangan tangan dingin lelaki bermata biru itu. Ia melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang ia berkata "Terima kasih." Saya menepuk tangannya dan berkata, "Saya tidak melakukannya untukmu. Tuhan berada di sini bekerja melalui diriku untuk memberimu harapan." Saya mulai menangis ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung dengan suami dan anak saya. Ketika saya duduk, suami saya tersenyum dan berkata, "Itulah sebabnya mengapa Tuhan memberikan kamu kepadaku, Sayang. Untuk memberiku harapan." Kami saling berpegangan tangan. Saat itu kami tahu bahwa hanya karena rahmat-Nyalah kami dapat memberikan sesuatu pada orang lain. Hari itu, cahaya kasih Tuhan yang murni dan indah ditunjukkan pada saya.
--------
Saya kembali ke kampus, pada hari terakhir kuliah, dengan cerita ini di tangan. Saya menyerahkan "proyek" itu dan dosen membacanya. Kemudian ia memandang saya dan berkata, "Bolehkan saya membagikan ceritamu kepada yang lain?" Saya mengangguk perlahan. Kemudian ia meminta perhatian dari kelas.
Ia mulai membaca dan saat itu saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan bagian dari Tuhan, membagikan pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk disembuhkan.
Dengan caraku sendiri saya telah menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap jiwa yang menghadiri ruang kelas di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan satu pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari : "Penerimaan Tanpa Syarat". Banyak cinta dan kasih sayang yang dikirimkan kepada setiap orang yang mungkin membaca cerita ini dan mempelajari bagaimana untuk "Mencintai Sesama Dan Memanfaatkan Benda-Benda - Bukannya Mencintai Benda Dan Memanfaatkan Sesama."
Semoga bermanfaat.
Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah. Kelas terakhir yang saya ambil adalah sosiologi. Dosen kami adalah seorang yang sangat inspiratif dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhirnya diberi nama "Tersenyum". Seluruh mahasiswa diminta untuk pergi keluar dan tersenyum kepada tiga orang dan mendokumentasikan reaksi mereka. Saya adalah seorang yang mudah bersahabat, selalu tersenyum pada setiap orang, dan menyapa "hallo". Saya pikir, tugas ini sangatlah mudah. Segera setelah menerima tugas itu, saya bersama suami dan anak bungsu saya pergi ke restoran McDonald's. Waktu itu pagi di bulan Maret yang sangat dingin dan kering.
Kami berdiri dalam antrian menunggu untuk dilayani. Tiba-tiba semua orang di sekitar kami menyingkir, bahkan suami saya ikut menyingkir. Saya tidak bergerak sama sekali. Suatu perasaan panik menguasai diri saya. Saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir. Ketika itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang sangat menyengat. Tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma.
Ketika saya memandang laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri dekat dengan saya, ia "tersenyum". Matanya berwarna biru langit indah seakan berharap untuk dapat diterima. "Good day," katanya sambil menghitung beberapa koin yang telah ia kumpulkan. Lelaki yang kedua berdiri di belakang temannya. Tangan bergerak-gerak aneh. Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita keterbelakangan mental. Sedangkan lelaki bermata biru adalah penolongnya. Saya menahan haru ketika berdiri di sana bersama mereka. Wanita muda di counter menanyai pesanan lelaki itu. Yang lalu dijawabnya, "Kopi saja, nona" karena hanya itulah yang mampu mereka beli. Asal tahu saja, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, kita harus membeli sesuatu. Ia hanya ingin menghangatkan badan.
Kemudian saya benar-benar merasakan desakan yang sedemikian kuat sehingga saya hampir saja merengkuh dan memeluk lelaki kecil bermata biru itu. Tetapi saya menyadari bahwa semua mata di restoran menatap saya, menilai semua tindakan saya. Saya tersenyum dan berkata pada wanita di belakang counter untuk memberikan pada saya dua paket makan pagi lagi dalam nampan terpisah.
Kemudian saya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya. Saya meletakkan nampan itu di atas meja. Saya menyentuh tangan tangan dingin lelaki bermata biru itu. Ia melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang ia berkata "Terima kasih." Saya menepuk tangannya dan berkata, "Saya tidak melakukannya untukmu. Tuhan berada di sini bekerja melalui diriku untuk memberimu harapan." Saya mulai menangis ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung dengan suami dan anak saya. Ketika saya duduk, suami saya tersenyum dan berkata, "Itulah sebabnya mengapa Tuhan memberikan kamu kepadaku, Sayang. Untuk memberiku harapan." Kami saling berpegangan tangan. Saat itu kami tahu bahwa hanya karena rahmat-Nyalah kami dapat memberikan sesuatu pada orang lain. Hari itu, cahaya kasih Tuhan yang murni dan indah ditunjukkan pada saya.
--------
Saya kembali ke kampus, pada hari terakhir kuliah, dengan cerita ini di tangan. Saya menyerahkan "proyek" itu dan dosen membacanya. Kemudian ia memandang saya dan berkata, "Bolehkan saya membagikan ceritamu kepada yang lain?" Saya mengangguk perlahan. Kemudian ia meminta perhatian dari kelas.
Ia mulai membaca dan saat itu saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan bagian dari Tuhan, membagikan pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk disembuhkan.
Dengan caraku sendiri saya telah menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap jiwa yang menghadiri ruang kelas di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan satu pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari : "Penerimaan Tanpa Syarat". Banyak cinta dan kasih sayang yang dikirimkan kepada setiap orang yang mungkin membaca cerita ini dan mempelajari bagaimana untuk "Mencintai Sesama Dan Memanfaatkan Benda-Benda - Bukannya Mencintai Benda Dan Memanfaatkan Sesama."
Saturday, January 9, 2010
Membedah Tembang Ilir-Ilir
Karya besar (tembang Ilir-ilir) ini dibuat oleh Sunan Kalijaga, yang terkenal dengan dakwah Islam ala Jawa yang telah dikenal masyarakat pada zamannya hingga sekarang. Sunan Kalijaga ialah anggota Wali Songo (sembilan Waliullah) yang dikenal sebagai sosok bijaksana dan cerdas.Beliau adalah satu-satunya anggota Wali Songo yang asli keturunan Jawa. Oleh karena itu, dalam misi menyebarkan agama Islam, beliau menggunakan cara-cara kejawen yang mudah dimengerti oleh kalangan orang Jawa yang pada waktu itu masih ada pengaruh budaya Hindu. Dakwahnya tidak hanya dikenal di kalangan rakyat jelata, namun kalangan ningrat pun mengetahuinya. Oleh karena itu, beliau dikenal oleh kaum muslim yang fanatik sebagai pemimpin “Islam abangan”. Maksud “abangan” dalam konteks ini ialah (cara dakwah) tidak seperti Islam aslinya di Negeri Arab, khususnya dalam hal budayanya.
Kebijaksanaan dalam hal kebudayaan memang beliau ambil sendiri (diterapkan secara lokal). Bangsa Jawa saat itu memang murni Bangsa Jawa yang berkebudayaan Jawa, tidak perlu diganti dengan kebudayaan Bangsa Arab. Hanya dalam hal kepercayaan saja harus diganti dengan kepercayaan Islam, dengan pengertian yang dalam. Maka (pada waktu itu), seni dan kebudayaan Jawa tidak dihapus oleh Sunan Kalijaga, namun diberi warna Islam, upacara ritual seperti selamatan doanya diganti dengan doa Islam. Wayang kulitpun diubah sedemikian rupa bentuknya, sehingga tidak menyalahi hukum Islam. Hingga pada perjalanannya, beliau menghasilkan karya besar berbudaya Jawa dengan membuat tembang seperti Ilir-ilir dan Dandang Gula yang di dalamnya terdapat nilai-nilai dakwah.
Tembang Ilir-ilir ini akan kita kaji lebih dalam dalam pembahasan ini, karena di dalamnya banyak sekali pelajaran-pelajaran yang patut kita teladani. Berikut adalah syair tembang tersebut :
ILIR – ILIR
Lir-ilir, Lir-ilir,
Tandure wus sumilir,
Tak ijo royo-royo,
Tak sengguh penganten anyar.
Cah angon – cah angon,
Penekno blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu penekno,
Kanggo mbasuh dodotiro.
Dodotiro – dodotiro,
Kumitir bedah ing pinggir,
Dondomana jlumatana,
Kanggo seba mengko sore.
Mumpung padang rembulane,
Mumpung jembar kalangane,
Yo suraka, surak hiyo.
Syair tersebut sangat indah jika kita merenungkannya secara mendalam.
Nasihat Dibalik Tembang ILIR – ILIR
Tembang ini mengandung nasihat bagaimana untuk menjadi muslim yang baik. Secara garis besar tembang tersebut berisi:
· Bait pertama menerangkan mulai bangkitnya iman Islam.
· Bait kedua ialah perintah untuk melaksanakan Rukun Islam yang lima.
· Bait ketiga tentang taubat, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan untuk bekal kelak.
· Bait keempat menerangkan tentang adanya kesempatan-kesempatan (yang baik).
Berikut adalah uraian-uraian secara rinci :
Uraian “Lir-ilir Tandure Wis Sumilir”
Kata Lir-ilir berasal dari bahasa Jawa “Ngelilir” yang bahasa Indonesianya ialah terjaga/bangun dari tidur. Maksudnya ialah, orang yang belum masuk (agama Islam) dikatakan masih tidur / belum sadar. Pada tembang di atas, kata “Lir-ilir, Lir-ilir” (diulang sebanyak dua kali), maksudnya ialah “bangun-bangun”, bangun ke alam pemikiran yang baru, yaitu Islam.
Sedangkan baris “tandure wis sumilir”, terdiri dari :
- “tandure” berarti “benih” yang ditanam.
- “wis sumilir” berarti sudah tumbuh.
Jadi, baris “tandure wis sumilir” sama dengan benih yang ditanam sudah mulai tumbuh. Benih di sini berarti iman, yaitu iman Islam. Pada dasarnya semua manusia yang terlahir di muka bumi ini telah dianugerahi benih berupa iman oleh Allah swt. Disadari atau tidak bergantung pada orang-orang yang bersangkutan. Jika orang yang bersangkutan tersebut “sadar” akan adanya benih itu dalam dirinya dan mau merawat dengan baik setiap harinya, maka benih itu akan tumbuh subur, tentunya akan menghasilkan buah yang baik pula. Perawatan benih iman itu dapat berupa :
- Membaca Al Quran atau bacaan-bacaan Islam lainnya.
- Menghadiri pengajian.
- Mendengarkan khutbah mimbar agama Islam
- Menjalin hubungan baik / silaturrahmi dengan sesama.
Masih banyak lagi pupuk-pupuk (makanan rohaniah) lainnya, yang tentunya dilaksanakan dengan penuh keikhlasan.
Uraian “Tak Ijo Royo-Royo, Tak Sengguh Pengantin Anyar”
“Tak ijo royo-royo” – Dibuat tumbuh subur, daunnya hijau nan segar. Maksud kalimat tersebut nampaknya menekankan “penampilan” tentang pribadi muslim yang menyenangkan. Adanya benih iman yang selalu dirawat yang menjadikan pribadi muslim sehat jasmani dan rohani. “Ijo-royo-royo” merupakan lambang tanaman yang subur karena dirawat dengan baik.
“Tak sengguh penganten anyar” – pengantin baru. Pengantin ialah pasangan mempelai. Analogi ini disangkutkan dengan manusia atas keyakinan imannya, yang baru bertemu menjadi pengantin. Pasangan / pengantin baru ialah orang yang sangat berbahagia hidupnya. Begitu pula dengan “tak sengguh penganten anyar,” orang yang telah bersanding dengan keyakinan iman Islam.
Jadi, maksud dari “Tak ijo royo-royo, tak sengguh pengantin anyar” berarti benih iman seseorang yang dirawat dengan baik akan menghasilkan seorang muslim yang baik pula. Kebahagiaan seorang muslim di sini ibarat pengantin baru.
Iman yang kokoh yang digambarkan dengan “tak ijo royo-royo” tadi, haruslah selalu dijaga dan dirawat dengan baik. Tumbuhan bisa tidak “tak ijo royo-royo” lagi bila terkena hama. Analogi ini bisa kita kaitkan dengan iman seorang muslim.
Penjagaan iman supaya tetap kokoh haruslah mampu menghalau hama-hamanya (contoh : tindakan kemungkaran). Berjudi, mencuri, zina, minum minuman keras, dan sejenisnya merupakan hama iman yang harus segera dibasmi.
Uraian “Cah Angon – Cah Angon, Penekno Blimbing Kuwi”
“Cah angon” berarti anak gembala. Kata-kata tersebut diulang bahkan dua kali, yang berarti di sini terdapat penekanan, adanya perintah yang penting. Perintahnya yaitu : “penekno blimbing kuwi” (panjatlah belimbing itu). Perintah ini diberikan kepada bawahan / kedudukan yang lebih rendah dari atasan / kedudukan yang lebih tinggi. Analogi ini sepintas berkesan “orang tua yang memerintah anaknya.”
Mengapa yang harus diperintah ialah “cah angon?” Ada gembala, pasti ada yang digembalakannya. Arti cah angon (bukan hanya anak semata) ialah manusia. Manusia yang sebagai gembala menggembalakan nafsu-nafsunya sendiri. Nafsu-nafsu yang dimiliki setiap orang ini, kalau tidak digembalakan, bisa merusak dan tentunya banyak melanggar perintah / aturan agama. Pribadi manusia haruslah bisa berperan sebagai gembala yang baik. Intinya, “cah angon” merupakan sebutan yang diperuntukkan untuk seorang muslim yang menjadi gembala atas nafsu-nafsunya sendiri.
“Penekno blimbing kuwi.” Ini bukan berarti harus memanjat buah belimbingnya, namun “panjatlah pohon belimbing itu.” Perintah yang harus dipanjat ialah pohon belimbingnya (untuk meraih buahnya). Timbul pertanyaan, mengapa harus belimbing yang dijadikan contoh di sini, kok tidak durian atau strawberi? Kita tahu bahwa belimbing mempunyai 5 sisi. Nah gambaran ini sebenarnya merujuk kepada rukun Islam yang lima, yaitu :
- (Dua kalimat) syahadat
- Mendirikan sholat
- Membayar zakat
- Berpuasa Ramadhan
- Menunaikan ibadah haji
Uraian “Lunyu – Lunyu yo Penekno kanggo Mbasuh Dodotiro”
Bahasa Indonesia dari “Lunyu-lunyu yo penekno” ialah “Meskipun licin, tetap panjatlah” (baris ini berhubungan dengan baris sebelumnya “Cah angon-cah angon, peneken blimbing kuwi”). Licin merupakan sebuah penghambat bagi si pemanjat. Haruslah memanjat dengan sungguh-sungguh dan hati-hati. Jika tidak, maka akan tergelincir jatuh.
Sama halnya dengan perintah agama. Jika tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin bila tergelincir ke neraka. Analogi secara kasat mata, jalan turun memang lebih mudah daripada jalan naik, jalan menuju neraka lebih mudah daripada jalan menuju ke surga. Bukankan minum minuman keras, judi, berzina, berdusta, memfitnah lebih mudah daripada mencegah kemungkaran, mengerjakan sholat dan berpuasa? Namun, bagi “cah angon” yang taat, perintah Allah untuk memanjat “blimbing” tadi bukanlah beban dan bukan sesuatu yang berat baginya (untuk meraih buah yang lezat, yaitu surga).
“Kanggo mbasuh dodotiro” mempunyai maksud : berguna untuk membersihkan atau mensucikan kepercayaan kita, hingga benar-benar menjadi kepercayaan yang suci. Dodot ialah pakaian kebesaran di lingkungan kraton. Dodot = pakaian. Analogi ini diibaratkan sebagai “kepercayaan.” Pada zaman “WaliSongo” dulu, banyak orang yang memeluk agama Hindu, Buddha, dan Animisme. Hal-hal seperti itu dicuci dengan “iman Islam” oleh WaliSongo, hingga jadilah agama yang bersih dan benar yaitu agama Islam. Salah satu pembersihnya yaitu rukun Islam yang lima.
Uraian “Dodotiro – Dodotiro Kumitir Bedah ing Pinggir, Dondomana Jlumatana, Kanggo Seba Mengko Sore”
Keterangan sebelumnya menerangkan bahwa “dodot” untuk menggambarkan agama atau kepercayaan yang dianut. “Kumitir bedah ing pinggir” artinya : banyak robekan-robekan di bagian tepi.
Berikutnya terdapat perintah “dondomana jlumatana” – dijahit/diperbaiki. Pakaian yang rusak tadi hendaklah diperbaiki agar pantas dipakai lagi. Demikian halnya dengan kepercayaan kita. Bila rusak (karena dosa-dosa yang telah dilakukan), hendaknya diperbaiki dengan jalan memohon ampun kepada Allah (taubat) dan melakukan rukun Islam sebaik-baiknya. “Kanggo seba” mengandung arti : “datang, menghadap Yang Maha Kuasa, yaitu Allah.” Sedangkan “sore” mengandung maksud “akhir dari perjalanan.” Akhir dari perjalanan manusia.
Jadi, maksud dari “Kanggo seba mengko sore” yaitu : “untuk menghadap Allah nanti bila perjalanan hidup sudah berakhir.” Hikmahnya yaitu bagaima kita melaksanakan perintah dalam mengamalkan rukun Islam dengan baik sebagai bekal untuk menghadap Allah kelak ketika hidup sudah berakhir.
Uraian “Mumpung Padang Rembulane, Mumpung Jembar Kalangane”
Terjemahan Bahasa Indonesia-nya ialah : “selagi terang sinar bulannya, selagi luas tempatnya.” terang bulan yang jelas saat malam hari.
Tanpa cahaya bulan pada malam hari (tanpa penerang apapun) akan gelap gulita, tidak dapat melihat apa-apa. Maksudnya, disaat “gelap” orang akan sulit (bahkan tidak mampu) membedakan yang haq dan batil (mana yang baik/benar dan mana yang buruk/salah/haram). Namun, pada suasana gelap itu sesungguhnya terdapat “sinar penerangan” dari cahaya bulan (Sinar Islam), sehingga bisa nampak jelas mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang haq dan mana yang batil. “Mumpung jembar kalangane” – Luas cakupan sinar bulan, mampu menerangi daerah yang luas.
Jadi, maksud dari “Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane” adalah mumpung masih ada kesempatan bertaubat untuk meraih surga (menek blimbing) itu / untuk melaksanakan perintah agama, yaitu rukun Islam yang lima tadi. Hal ini dikarenakan dengan adanya Sinar Islam itu, kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kesempatan yang baik dan luas itu jangan sampai disia-siakan begitu saja. Semua itu merupakan ajakan untuk seluruh umat manusia agar melaksanakan kelima rukun Islam dengan baik dan benar.
Uraian “Yo Surako, Surak Hiyo”
Baris di atas (mari bersorak-mari bersorak) ialah ajakan untuk bersorak. Sorak merupakan ekspresi kebahagiaan dan kesenangan bagi yang bersangkutan. Mengapa harus berbahagia? Tak lain ialah karena ia sudah berhasil melaksanakan perintah “Peneken blimbing kuwi, lunyu-lunyu ya peneken.” Bahagia atau senang ini diperoleh sebagai hadiah dari pekerjaannya “memanjat belimbing itu” (surga).
Inti dari baris tersebut ialah, mengajak “Si Cah Angon” (seorang muslim) yang telah melaksanakan perintah “peneken blimbing kuwi” dengan baik, untuk berbahagia karena akan memperoleh pahala yang berupa surga.
Demikian uraian ini semoga bermanfaat bagi kita semua.
Subscribe to:
Posts (Atom)